“Jika Anda tidak/belum bisa berbahasa Inggris, janganlah takut. Karena masih banyak orang Inggris yang (juga) tidak/belum bisa berbahasa Indonesia”

Entah siapa yang bilang, tapi saya suka dan percaya argumen itu.

Kalimat itu menjadi modal penting dalam saya belajar berbahasa Inggris, hingga saya berkesempatan menempuh kuliah ke kampus di Amerika Serikat dan Inggris. Saya teringat, di awal tahun 80an, saat saya masih SD. Dekat rumah saya di Blower, Banda Aceh ada kantor Save the Children, LSM asing yang bekerja di bidang kemanusiaan. Saya kurang paham apa kerjaan mereka saat itu, karena waktu SD kerjaan saya cuma main sepulang sekolah. Yang saya paham orang bekerja di situ bule-bule, orang asing. Katanya warga negara Amerika. Mungkin juga Inggris, atau juga Rusia. Yang pasti bukan Zimbabwe, karena kulit mereka putih, rambutnya juga pirang, bukan seperti tipikal warga Zimbabwa kebanyakan. 

Nah, suatu ketika saat bermain sepeda di jalan, salah seorang petinggi kantor itu terlihat sedang berjalan kaki keluar dari halaman kantor. Dengan penuh rasa pe-de saya dekati beliau, lalu mengeluarkan satu-satunya pertanyaan bahasa Inggris yang saya hafal betul sewaktu kelas 1 SD. 

“What is your name?” tanya saya penuh keyakinan kepada pria bule itu. 

Mendengar saya bertanya, ia mendadak berhenti dan menatap sedikit heran, mungkin ia fikir baru kali itu bertemu anak SD yang berani menghentikan jalannya dan bertanya nama.  Beberapa detik kemudian ia tersenyum. Pria jangkung itu menjawab sambil menatap saya.

“My name is ‘bla..bla..bla’  (serius saya lupa namanya. Entah Erick, Michael, atau David. Pokoknya nama yang asing, bukan seperti nama-nama kawan saya kayak Budi, Samsul, atau Agam. Lalu ia balik tanya, dengan bahasa Inggris, tetap disertai senyum.

Tiba-tiba dunia mendadak gelap. Saya ‘error’, membisu tak tahu mau bilang apa. Satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yg saya tahu cuma “What is your name”. Saya sungguh tidak siap dengan pertanyaan dalam bahasa asing ini. Saya bingung mau jawab, karena tidak paham pertanyaan juga tentang apa. Sebagai info, saya yang bersekolah di SD Negeri di awal tahun 80an itu tidak belajar bahasa Inggris secara formal di kelas. Internet atau Youtube juga belum hadir. Entah dari mana saya dapati pertanyaan itu. 

Si bule sepertinya paham kebingungan saya. Lalu, ia balas balik dengan bahasa Indonesia yang juga terbata-bata. Untung dia bisa bahasa Indonesia walau sedikit, pikir saya. Kalau tidak, entah bencana apa yang terjadi saat itu. Dengan aksen khas ia mengajak berbicara dan saya mulai paham apa pertanyaannya. Tak lama kami bicara, lalu saya izin mengayuh sepeda. Menghilang dari jangkauannya. 

Asimetri Ketakutan

Momen “What is your name?” yang sempat menjadikan “dunia yang gelap” dan saya terbisu di masa kecil itu seakan memberi pelajaran bahwa ada jurang antara menghafal dan menggunakan. Pertama, kita semua punya pengetahuan yang kadang berhenti di otak saja, tidak pernah turun ke mulut atau tangan (praktik). Banyak orang menghindari momen “error” itu dengan tidak pernah memulai sama sekali. Sekarang saya paham, saat saya mulai bertanya saat itu, lalu blank, justru itulah pelajarannya berlangsung.

Kedua, komunikasi terbaik selalu terjadi dua arah. Alih-alih menertawakan, Si bule justru menjembatani komunikasi terputus itu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang juga terbata-bata. Artinya, ketika kita berani mengambil langkah pertama, walaupun kadang canggung, aneh, menakutkan, justru sering pihak lain bersedia berjalan setengah jalan untuk menyambut kita. Masalah kita adalah paranoid atau ketakutan membayangkan dunia yang lebih kejam dari aslinya.  

Ketiga, anak kecil tidak takut salah, tapi kita kehilangan rasa itu saat dewasa. Jika Anda berani ajak orang asing di jalan saat SD, mungkin akan berpikir dua kali untuk melakukannya saat dewasa. Apa yang hilang? Bukan kemampuan berbicara, malah kosakata Anda ribuan kali lebih banyak dibanding dulu. Yang hilang adalah keberanian, walaupun nanti akan terlihat bodoh.

Saya teringat dengan karya Brené Brown, dalam buku Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We Live, Love, Parent, and Lead (2012). Brown menguraikan bahwa ketakutan terhadap rasa malu, khususnya rasa malu karena terlihat bodoh, merupakan mekanisme utama yang membuat orang dewasa menghindari usaha sederhana yang tidak sempurna, namun malah sangat dikuasai oleh anak-anak. Keberanian kita sebagai orang dewasa berbeda dengan saat masa kecil. Kita sebenarnya bukan kehilangan kemampuan atau keberanian, tapi kesediaan kita untuk terlihat sebagai seseorang yang belum mampu adalah salah satu faktor membuat tingkat berani orang dewasa berbeda dengan anak-anak. 

Tulisan saya ini mengajak kita berbicara tentang asimetris ketakutan. Yaitu tatkala kita selalu membayangkan diri kita sebagai pihak yang kurang, padahal di hadapan kita sering ada orang yang punya kekurangan yang sama dalam hal yang sama atau berbeda. Bule asing tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik. Anda mungkin tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Tapi hanya satu pihak yang “bersedia” untuk malu duluan. 

Refleksi cerita masa kecil itu membuat saya ingin bertanya: Berapa banyak “What is your name” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang belum kita ucapkan dalam hidup, hanya karena takut tidak tahu jawaban berikutnya?”

*Peukan Bada, 27 April 2026

One Response

Leave a Reply to Popon Zailian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *