Percakapan dengan seorang mantan kontestan pilkada yang dicap gila membuat penulis merenungkan kembali batas antara waras dan gila, terutama saat nafsu berkuasa yang dianggap wajar oleh masyarakat.
Refleksi
Percakapan dengan seorang mantan kontestan pilkada yang dicap gila membuat penulis merenungkan kembali batas antara waras dan gila, terutama saat nafsu berkuasa yang dianggap wajar oleh masyarakat.