“Bang, ada otak?”
“Wah, gak ada lagi bang, udah habis. Tadi udah duluan orang pesan, sekarang habis”
Dialog itu pernah atau sering terjadi di warung nasi yang jual kari kambing. Yang tanya apakah otak masih ada adalah seorang pria yang doyan makan otak/isi kepala kambing yang dimasak gulai kari. Walaupun mitosnya bisa memicu tekanan darah tinggi, tapi masih banyak yang hobi.
Di tempat lain, di pinggir jalan raya saya sering mendapati sampah berserakan di trotoar atu tempat publik lainnya dibuang sembarang, bukan pada tempatnya. Orang yang tinggal di sekitar pembuangan sampah liar habis cara dan upaya buat menghimbau, melarang, hingga dengan tulisan sumpah serapah, caci-maki. Seperti, “Dilarang buang sampah di sini” (itu versi lembut dan mainstream). Kalimat serapah yang sering saya liat, “Dilarang buang sampah di sini. Yang buang sampah di sini b**b”. Atau penggunaan nama hewan lainnya (Andai hewan itu mengerti bahwa namanya dipakai untuk caci-maki tentu mereka takkan hepi). Versi lain yang juga sering saya yaitu, “Yang buang sampah di sini, tak ada otak”
Konteks lain penggunaan “otak” misal saat ada suatu peristiwa penting. Misal saat terjadi kerusuhan oleh massa, muncul dugaan orang atau berita di media yang melaporkan, bahwa “Otak di balik kerusuhan itu adalah seseorang berinisial XYZ”. Otak dalam konteks ini dimaknai sebagai dalang atau inisiator kerusuhan yang menjadi perancang skenario dan strategi suatu kejadian.
Ketiga konteks ini membuat otak saya berfikir serius dan sedikit bingung tentang otak. Apakah otak menjadi barang langka, atau digunakan saat yang genting saja? Di warung kari, otak laris manis. Tapi, di trotoar, otak tidak dipakai saat membuang sampah sembarangan. Lalu, saat ada kejadian otak justru dipakai untuk sesuatu yang destruktif.
Kita tahu, di balik setiap peristiwa besar selalu ada “otak” yang bekerja, mulai dari merancang, menghitung, hingga memutuskan. Tidak seperti otak di balik kerusuhan yang bekerja dalam gelap dan penuh misteri, otak pemerintah yang merancang kebijakan publik seharusnya berpikir dan bekerja dalam terang, jernih, terbuka, jujur dan memihak kepada kepentingan publik.
Kelihatannya pemerintah dari level pusat hingga daerah punya bakat Istimewa yaitu membuat hal yang sederhana menjadi sulit dan bingung untuk dipahami. Harga barang naik, dibilang stabil, utang bertambah disebut aman, harga dollar meroket dibilang orang di kampung tak pakai dollar.” Lalu, rakyat diminta tidak boros saat memasak yaitu dengan mematikan kompor ketika masakan sudah matang. Sungguh suatu statemen yang “mencerahkan” sekaligus “menginspirasi”: bagi siswa PAUD.
Di sisi lain, ajakan berpikir kritis sekaligus mencerdaskan bangsa justru dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tapi kerja-kerja gotong-royong ini justru dihambat oleh penguasa sendiri. Contoh, beberapa waktu lalu kita menyaksikan film dokumenter “Pesta Babi” yang karya Dandhy Laksono sempat dilarang diputar dan didiskusikan di beberapa tempat. Alasan klise dan terdengar mulia sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang melarang, misalnya demi menjaga ketertiban, masalah perizinan, hingga masalah SARA, dll.
Padahal dalam bahasa yang lebih jujur pelarangan diskusi bermakna rakyat jangan terlalu paham dan banyak berpikir. Karena rakyat yang berpikir akan bertanya. Rakyat yang bertanya akan menuntut. Rakyat yang menuntut akan mengawasi. Dan rakyat yang mengawasi akan membuat kursi kekuasan menjadi tidak nyaman lagi.
Produk pengetahuan seperti buku, film dokumenter, diskusi publik adalah nutrisi bagi otak. Di situlah informasi diuji, dipertanyakan, diperdebatkan, untuk menggali ide-ide pencerahan. Namun bagi sebagian kekuasaan, upaya yang mengajak rakyat berfikir kritis justu dianggap lebih menakutkan daripada inflasi yang semakin “naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali”
Jika ini terus berlangsung, maka patut diduga penguasa sedang merancang “kerusuhan otak” dengan cara menganaktirikannya atau membuatnya malas berpikir. Ini berpotensi menciptakan kekacauan, tatkala otak tidak dipakai untuk berpikir secara benar.
Atau, apa sebenarnya yang ada di dalam otak penguasa? Ada apa di balik semua itu? Mengapa urusan “otak” sering tidak diprioritaskan di negara yang ingin SDMnya maju? Siapa di balik “otak” semua itu?
Ah, membahas tentang isu antara perut dan otak ini bikin saya jadi pusing. Tapi, setidaknya itu menjadi bukti bahwa otak saya masih ada.
Berbicara tentang otak ini mengingatkan saya pada orang yang selalu konsisten mengajak kita untuk terus berpikir. Ia adalah seorang pelawak: Cak Lontong. Mikiiirrr..!
*Banda Aceh, Mei 2026